Rabu, 14 Juli 2010

CATATAN Akhir Piala Dunia 2010: Dari Jabulani, Vuvuzela Hingga Hingga Prediksi Tepat Paul Si Gurita

Pesta sepakbola paling meriah sejagat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan akhirnya tuntas. Sebulan penuh para penggila sepakbola dimanjakan oleh aksi-aksi istimewa para pemain papan atas dari seluruh penjuru dunia yang diakhiri oleh sebuah gol dari Andres Iniesta untuk mengantarkan La Furia Roja mengangkat trophy Piala Dunia untuk kali pertama sepanjang sejarah mereka.

Cukup banyak catatan spesial yang bisa kita ambil dari perhelatan Piala Dunia kali ini. Mulai dari yang bernada kontroversi seperti jabulani, vuvuzela, gol Frank Lampard, 'tangan Tuhan' ala Luis Suarez hingga hasil mengejutkan seperti kemenangan Swiss atas Spanyol, tumbangnya dua finalis empat tahun lalu yaitu Italia dan Prancis hingga penampilan mengejutkan perwakilan asia di Afrika Selatan.

Sejak kehadirannya di Afrika Selatan, nama Jabulani begitu terkenal di seluruh penjuru dunia. Bola yang disebut memiliki tingkat kebundaran paling mendekati sempurna ini ternyata dicibir banyak pihak. Sederetan nama dengan reputasi tinggi seperti kiper Inggris David James, penyerang Brasil Luis Fabiano hingga pelatih Belanda Van Marwijk mengeluhkan bola tersebut, bahkan peraih Sarung Tangan Emas Iker Casillas di awal turnamen tanpa ragu menyebut Jabulani seperti layaknya bola pantai.

Jabulani juga menjadi 'tertuduh' atas minimnya gol yang tercipta di pekan pertama. Bola tanpa dosa itu pun menjadi kambing hitam atas blunder yang diciptakan kiper Inggris Robert Green saat The Three Lions bermain imbang dengan Amerika Serikat. Tetapi apa pun itu, Jabulani telah memberikan warna tersendiri bagi Piala Dunia 2010. Maicon bahkan berterimakasih pada Jabulani setelah mencetak gol fenomenal dari sudut sempit ke gawang Korea Selatan. Menurutnya tanpa Jabulani tidak mungkin dia bisa mencetak gol istimewa itu.

Dari jabulani, sorotan tiba pada vuvuzela. Suara bising terompet khas Afrika itu dikeluhkan oleh para bintang di tengah lapangan. Stadion yang sejatinya dihiasi oleh gemuruh sorak sorai para pendukung digantikan oleh suara seperti ribuan tawon yang terbang bersamaan. Seorang teman bahkan mengatakan akhirnya dia bisa membayangkan bagaimana suara senjata kapak dalam sebuah novel pendekar gila.

Bisingnya vuvuzela membuat pemain kesulitan berkomunikasi di lapangan. Terakhir Felipe Melo dengan nada sinis mengatakan vuvuzela sukses memecah konsentrasinya saat mencetak 'gol bunuh diri'. Bukan bermaksud latah, media peliput Piala Dunia pun mengeluhkan hal yang sama. Penonton yang menyaksikan dari kejauhan melalui televisi berkurang kenikmatannya karena suara komentator nyaris lenyap dilibas vuvuzela.

Permintaan untuk melarang vuvuzela di stadion pun sempat mengemuka meski pada akhirnya tidak dikabulkan FIFA dengan dalih tidak mungkin melarang kegembiraan di Afsel. Sehari sebelum final Piala Dunia berakhir, Sepp Blatter berseloroh, "Akhirnya kita semua bisa melalui vuvuzela."

Piala Dunia di Afsel merupakan yang pertama yang digelar di benua hitam, tak heran jika semua tim begitu bernafsu mendapatkan gelar juara karena pesona tersebut, benarkah demikian? Hm... mungkin Prancis bisa kita coret dari daftar tersebut pasalnya tidak lain karena kisruh di tim tersebut yang berujung penampilan buruk dan akhirnya tersingkir.

Prancis tidak sendirian, setidaknya lawan Prancis di final Piala Dunia empat tahun lalu, Italia, mendampingi mereka. Kehadiran skuad Italia di Afrika Selatan mendapat cibiran dari banyak pihak terutama dari sisi pemilihan skuad. Lippi keras kepala dengan pendiriannya dan hasilnya? Dua finalis Piala Dunia 2006 Ditendang keluar lebih cepat. Ironis!

Asia boleh menepuk dada dan berbangga hati melihat Jepang dan Korea Selatan lolos dari babak grup. Meski kedua negara kuat Asia itu akhirnya terjungkal di fase gugur, penampilan ngotot penuh semangat dengan kualitas teknik yang semakin mendekati level papan atas, menghadirkan decak kagum para penikmat bola dan membuka harapan jika suatu saat sepakbola Asia akan berbicara lebih jauh di level internasional.

Piala Dunia 2010 juga mencatat beberapa momen kontroversial dan dua di antaranya memaksa FIFA membawa permasalahan ke pertemuan para petinggi otoritas tertinggi sepakbola itu pada pertemuan di Jenewa Oktober mendatang.

Isu paling panas tentu saja momen 'gol' Frank Lampard kala Inggris dihajar Jerman dengan skor telak 4-1. Jabulani hasil sepakan Frank Lampard melesat begitu kencang dan keras sempat membentur mistar dan memantul melewati garis gawang yang dikawal kiper tim Panser Manuel Nuer, akan tetapi wasit dan asistennya tidak melihatnya dan gol pun dianggap tidak terjadi. Publik sepakbola langsung bereaksi, desakan penggunaan teknologi garis gawang kontan mengemuka. FIFA yang sempat menolak usulan tersebut, mau tidak mau akan membuka berkas kembali dan siap membahasnya di pertemuan khusus.

Sementara itu aksi Luis Suarez membuat publik sepakbola Ghana meradang, sebaliknya Uruguay berpesta pora. Bola yang sudah mengarah ke gawang Muslera ditahan oleh penyerang Ajax Amsterdam itu menggunakan tangan. Meski Ghana mendapat hadiah tendangan penalti, namun mistar gawang menggagalkan kemenangan Ghana hingga akhirnya Uruguay lolos ke semi-final.

Final Piala Dunia 2010 yang menghadirkan Belanda dan Spanyol hanya memberikan satu pilihan bagi sejarah yaitu hadirnya juara baru. Dari sudut lain, inilah partai final yang untuk pertamakalinya tidak dihadiri oleh salah satu dari empat tim besar dunia yakni Brasil, Italia, Jerman dan Argentina.

Kejayaan Spanyol di Afrika Selatan pun mengundang komentar tambahan sekaligus mengkritisi gaya sepakbola asal menang yang belakangan sempat menjadi 'tren' di kalangan pelatih tim peserta. Sebut saja Dunga dan Bert vam Marwijk yang rela meninggalkan Joga Bonito dan Total Football. Tak heran jika pameo SEPAKBOLA INDAH kembali berkuasa pantas di kedepankan.

Sebagai tambahan, kita tidak boleh melupakan seekor gurita dari Jerman yang bernama Paul. Gurita ini menjadi fenomena tatkala menebak dengan akurat delapan pertandingan Piala Dunia, termasuk satu pertandingan non-Jerman di final. Keberhasilan Paul ini seakan menebus 'dosa' yang pernah dia lakukan tatkala dua prediksinya di Euro 2008 meleset.

Sayang Paul dikabarkan pensiun dari urusan ramal-meramal hingga kita tidak bisa menguji kehebatannya dalam memprediksi pertandingan antar klub. Tetapi apapun itu, Piala Dunia 2010 telah memberikan hiburan bagi kita ditengah-tengah terpuruknya prestasi tim nasional. Selamat tinggal Afrika, terimakasih, sungguh sebuah pesta yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar